Oleh : Rahman Akhyar
Isim nakirah ialah setiap isim yang jenisnya bersifat umum yang tidak nenentukan suatu perkara dan lainnya. Singkatnya ialah setiap Isim yang layak dimasuki alif dan lam contohnya lafaz dan ( asal katanya yaitu dan )
Isim yang menunjukkan kepada suatu perkara yang tidak ditentukan
Misalnya lafazh artinya laki–laki yang tidak ditentukan (bersifat umum ), yakni dapat ditujukan kepada setiap laki-laki. Atau misalnya lafazh artinya kitab yang tidak ditentukan, yakni dapat ditujukan kepada setiap kertas yang ditujukan kepada setiap kertas yang bertuliskan suatu ilmu.
Tetapi kalau diberi alif dan lam, maka pengertiannya di tujukan kepada seorang laki-laki tertentu yang tidak bersifat umum seperti isim Nakirah tadi. Demikian pula dengan contoh lainnya.
Penggunaan Isim nakirah ini mempunyai berberapa fungsi diantaranya :
1. untuk menunjukkan satu, seperti pada surat yasin ayat 20 :
Artinya : ”Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas...
Yang maksudnya seorang laki-laki.
2. menunjukkan jenis, seperti pada surat Al-Baqarah 96 :
Artinya:
Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."
Yaitu sesuatu macam dari kehidupan dengan bekerja keras menuntut yaitu mencari tambahan untuk masa depan, sebab keinginan itu bukan untuk masa lalu atau masa sekarang.
3. untuk menunjukkan kedua – duanya ( satu dan jenis ) sekaligus, misalnya surat An-nur ayat 45 :
Artinya :
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Maksudnya, setiap jenis binatang itu berasal dari satu jenis air dan setiap individu (satu) binatang itu bersal dari satu Nutfah (air mani).
4. untuk membesarkan dan memuliakan seperti surat Al-Baqarah Ayt 279
Artinya :
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
5. untuk menyatakan arti banyak dan melimpah, seperti pada surat As-Syu’ara ; ayat 41
Artinya :
Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, merekapun bertanya kepada Fir'aun: "Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang.
Kata “ajran” pada ayat ini menunjukkan sesuatu yang melimpah yaitu “upah” . atau untuk menunjukkan yang banyak seperti pada surat Fatir Ayat 4
Artinya :
Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan) maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.
Yaitu menunjukkan bahwa Allah menunjukkan atau mengutus Rasul-Rasul yang mulia dan banyak jumlahnya.
6. untuk meremehkan dan merendahkan, misalnya pada Surat Abasa Ayat 18 :
Artinya :
Dari apakah Allah menciptakannya?
Yakni Allah bertanya dan sambil merendahkan makhluknya dari apa sebenarnya penciptaan kita, pada dasarnya Allah telah mengetahui kita diciptakan dari mani atau sesuatu yang hina hanya untuk mengingatkan asal kejadian kita.
7.untuk menyatakan sedikit, kecil seperti pada surat At-Taubah ayat 72
Artinya :
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.
Yang maksud dari ayat ini Allah menegaskan bahwa sedikit dan kecil karena keridhaan Allah yang sedikit lebih besar dari pada surga, karena keridhaan adalah pangkal dari segala kebahagiaan.
Maka jelaslah bahwa Isim Nakirah pada ilmu tafsir tersebut adalah untuk memahami ayat yang berbentuk umum dan tidak di khususkan oleh Allah SWT, sebab pernyataan tersebut merupakan ungkapan yang memang tertuju pada semua makhluk yang ada di muka bumi/ seluruh ciptaan-Nya.
Pada ayat yang lain yang memang menjadi tugas pemakalah yaitu pada surat
a. Ali Imran 145
b. Ahzab 4 & 26
A. Ali Imran Ayat 145
Artinya :
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Ayat ini menunjukkan betapa kehidupan Akhirat lebih baik dan sempurna dibandingkan dengan kehidupan di dunia. Dan juga Allah sertakan dalam ayat ini bahwa Allah membesarkan dirinya dan betapa Allah itu sangat mulia.
Tiada seorangpun yang meninggal tampa izin Allah dan kehendaknya. Allah telah menetapkan kematian seseorang itu pada ajal (waktu) yang telah ditentukan, tidak bisa di undurkan dan dimajukan walau sesaat.
B. Ahzab Ayat 36
Artinya :
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwa ayat ini mengandung maksud umum dan tidak dibatasi pada satu permasalahan, apapun yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rasulnya tidak boleh di langgar dan ditolak.
Ahzab 4
Artinya :
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar. itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
(rajul) pada Firman Allah ini, kata tersebut berbentuk nakirah yang di tampilkan dalam bentuk negasi. Ini menunjukkan tidak seorangpun yang memiliki dua hati, ayat ini hanya sebagai muqaddimah bahwa anak angkat seorang tidak persis sama dengan anak kandungnya. Sehingga memiliki hak yang sama. Tidak juga istri yang dipersamakan ibu kandung dengan ibu dalam keharaman (menggaulinya) dan kedua hal ini hanya berlaku pada masa jahiliyah dan awal kedatangan Islam kemudian dibatalkan dengan surah ini.
KESIMPULAN
Nakirah dalam pembahasan Ilmu Studi Al-Qur’an yang dimaksud di atas adalah suatu yang sangat umum dan sedikitpun tidak ada pengkhususan di dalamnya. Jika satu kata yang tidak ada penjelasan khusus maka dianya adalah Isim Nakirah dan jika satu kata telah diletakkan di awal kata tersebut huruf Alif maka kata tersebut telah khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an Terjemahan
http;www.kampussyariah.com, Pustaka Islam, Nahwu Isim Nakirah. Html
Syaikh Muhammad b. Shalih al-Utsaini, Lautan Hikmah Tafsir Surat yasin. Penerjemah, Abdul Gaffar, EM, Cet I, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, 2005
Al-Qattan, Syeikh Manna’ Khalil, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, penerjemah H. Aunur Rafiq El-Mazni, LC, MA. Cet I, Pustaka Kautsar, Jakarta 2006
M. Hasbib As-Siddiqi, Tafsir Qur’an Majid An-Nur, cet II, Pustaka Rizki, semarang, 2000
Shihab M. Quraish, Tafir Al-Misbah, Cet VII, Lentera Hati, Ciputat, 2007
Minggu, 14 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar